Blog EntryHikayat Kersik TuoApr 7, '08 6:34 AM
for everyone
Sedikit on deppressed  memikirkan beberapa hal yang tiba-tiba terlihat memuakkan di sekitarku,membuat aku ingin menghabiskan energi untuk menulis soal satu hal yang sering di lupakan orang saat mendaki Gunung Kerinci, dan mestinya ; menngunjungi Desa Kersik Tuo. Bukan soal keindahan, kabut bergaris yang setiap pagi hinggap di ujung Kebun Teh Kayu Aro, atau kebun-kebun sayur yang mulai menggantikan rimbunnya hutan. Ini adalah cerita soal orang-orang, soal sejarah.

Hikayat Kersik Tuo

Kersik Tuo adalah sebuah desa di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Jambi. Desa di kaki gunung ini lebih mudah diakses dari Padang, Sumatra Barat, ketimbang dari Jambi itu sendiri. Penghasilan utama, sekaligus pekerjaan mayoritas masyarakatnya adalah pegawai kebun teh, menanam sayur, dan sebagian mendapatkan tambahan dari mengelola home stay, porter atau guide bagi para pendaki Kerinci dan Gunung Tujuh.
Mayoritas penduduknya adalah Suku Jawa, mereka masih berbicara menggunakan bahasa jawa untuk berkomunikasi setiap saat, mempraktekkan cara berpikir dan budaya Jawa..seperti nenek moyang mereka. Ya, mereka masih merasa menjadi orang Jawa seutuhnya, dan bangga dengan itu.

Tentu ada sejarahnya kenapa tiba-tiba orang-orang yang mengaku berasal dari Madiun, Jogjakarta, Solo dan daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu kemudian berada di pojok pedalaman pulau Andalas ; Sumatra.
Kita kembali ke tahun 1939, ke sebuah tempat bernama Jatisrono, Wonogiri.
Siang itu, pertengahan bulan Mei 1939, Warno, seorang pemuda Jatisrono, Kawedanan Jatisrono sedang berjalan-jalan di pasar satu-satunya di kota itu. Bapak dan ibunya sedang pergi ke kebun untuk memanen ketela pohon. Desa itu masih cukup sepi, dengan rimbunan hutan jati yang di ujung sebelah barat, di belah oleh Bengawan Solo. Pasar desa, selain ketoprak, wayang kulit dan Jathilan adalah satu-satunya hiburan rutin bagi masyarakat Wonogiri. Tentu saja pasar Jatisrono ini masih penuh dengan mbok-mbok penjualan tape, bakwan, galundeng, sego pecel dan makanan tradisional lain. Tak ada pizza, roti dan segala jenis makanan asing lain saat itu.
Warno datang untuk melihat-lihat dan rencananya bercukur, sampai tiba-tiba datang sebuah truk dari arah Wonogori. Sopirnya seorang belanda, dan beberapa centeng Jawa dengan cambuk dan kelewang di tangan.

Bersama beberapa pemuda dan pemudi dusun lain di pasar itu, Warno dipaksa masuk ke atas truk...dan kemudian melaju kencang ke arah Surakarta.
Sesampainya di sebuah gedung di dekat kantor residen, Warno yang baru pertama kali melihat "kota" terheran-heran, di sana ternyata sudah berkumpul banyak sekali pemuda, dipisahkan dengan yang wanita. Sebagian dari mereka nampak menangis.
Kemudian Warno baru tersadar, inilah "perwereck", penculikan oleh Belanda dan antek-antek jawa yang banyak terjadi di Surakarta. Meledaklah tangis pemuda lugu itu, teringat orang tuanya di Jatisrono, yang pasti akan kehilangan anak laki-laki satu satunya itu.
Hari itu juga dengan truk, melalui jalan berlubang di pantai utara Jawa (kemudian sering disebut jalan Deandels), Warno dan seluruh "tawanan" yang lain di bawa ke sebuah kota besar, yang baginya hanyalah dongeng ; Batavia.
Sehari kemudian,dengan badan pegal-pegal dan rasa lapar, haus dan kantuk yang mendera, para tawanan langsung diangkut ke sebuah dermaga yang dikenal dengan ; Sunda Kelapa. Sampai di situ para korban "perwereck" masih belum tahu akan di bawa kemana, akan hidupkah mereka sampai besok, atau akan menjemput keabadian di tangan sang ajal. Warno teringat nasihat simboknya, Yu Darmi, yang mengatakan " hati-hati le, sama centeng kompeni, nanti kamu ditangkap dan dibuang ke laut lho ". Saat ini, mimpi buruk itu telah di depannya; kompeni, kapal, centeng dan laut yang terasa menyeramkan.
Sekali lagi, Warno menangis tersedu, tanpa bisa keluar suara. Sambil memasuki kapal uap tua yang nampak kotor, dia teringat simbok yang begitu mengasihinya ; mendongengkan cerita-cerita mengesankan sebagai pengantar tidurnya ; kancil nyolong timun, bandung bondowoso, cerita cinta Dewi Sekartaji, Klenting kuning, joko tarub, sampai harimau yang suka memakan kambing di sisi hutan sana. Tak lupa cerita tentang Sunan Kalijogo, juga Ken Arok dan Gajah Mada yang menjadi tauladan dan kebanggaaan bangsa Jawa ; berani melawan orang-orang dari luar nusantara.
Tanpa disadari, 5 hari diombang-ambing ombak samudera, pusing, lapar dan sedih bercampur menjadi satu, tiba-tiba kapal tua itu tiba di sebuah tempat yang terasa asing bagi Warno, dengan orang=orang yang berbicara dengan bahasa berbeda. Kelak, Warno akhirnya tahu kalau tempat itu bernama ; Teluk Bayur.
Kemudian mereka dipisahkan, sebagian besar, yang agak tua dipisah dalam satu rombongan besar. Seorang Kompeni muda mengatakan bahwa mereka akan di bawa ke sebuah tempat bernama ; Kayu Aro. Warno tidak masuk ke dalam rombongan itu, melainkan ke kelompok yang lebih kecil, dan kembali dipaksa masuk ke sebuah kapal yang lebih kecil. Akhirnya, Warno tahu bahwa mereka akan dipaksa menuju sebuah pulau di tengah samudera yang bernama ; Siberut, saat ini masuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.
Sehari kemudian, sampailah rombongan itu di Siberut dan secara tegas, seorang centeng jawa, dengan sikap galak yang terkesan dipaksakan mengatakan, mulai besok, mereka akan bekerja sebagai "blandong" kayu, yang bertugas menebang kayu-kayu hutan di Siberut, tentu saja untuk keperluan pembangunan galangan kapal Kompeni di tanah Belanda sana, untuk kejayaan Ratu Wilhemina.

Singkat cerita, setelah 3 tahun dipaksa bekerja dengan upah sekedarnya, Warno menikahi seorang perempuan Jawa yang kebetulan juga menjadi korban "penculikan", dan dipaksa menjadi tukang masak bagi para blandong kayu di Siberut.
Setelah menikah, mereka memutuskan untuk meminta ijin kepada mandor penebangan untuk dapat dipindahkan ke sebuah tempat di daratan Sumatra, tempat beberapa kawan yang sama-sama kenala sebagai sesama korban penculikan paksa berada. Sebuah negeri subur berkabut di tepi rimba, dengan gunung menjulang tinggi tepat di hadapannnya ; Kerinci dan yang lebih tegas lagi ; tempat orang-orang dari Jawa yang dipaksa berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, dengan tanah kelahiranyya, dengan akar budayanya ; Kersik Tuo.
Nanung, Jakarta, 7 April 2008, bersambung.....



dboycan05 wrote on Apr 7
hmm, jd warno kakek buyut untuk wil kayu aro??sory kurang nyimak aku ya masd??he...
ameecable wrote on Apr 10
makasih atas info nya yahhh
jj0104 wrote on Apr 16
mas, saya mau ke kersik tuo, dari padang naik bis dari terminal apa? berapa lama naik bis nya? makasih yaaaa
beningbanyubiru wrote on Apr 16
jj0104 said
mas, saya mau ke kersik tuo, dari padang naik bis dari terminal apa? berapa lama naik bis nya? makasih yaaaa
gak ada bis mas ke arah Kersik Tuo, tapi travel..cukup nyaman juga kok. Di kota Padang, anda bisa nyari travel jurusan Sungai Penuh, Jambi, dan bisa turun di Kersik Tuo, dengan harga sekitar 60-80 ribu. Ada beberapa homestay di sana, bisa milih sesuai kantong anda. Kalo tebel dompet, bisa di Soebandi, menengah di Paiman, atau kalo cuma nunut dengan kontribusi sekedarnya di rumah Mbah Warno, tepatnya di seberang Suimpang Macan masuk, bewlakang masjid...
jj0104 wrote on Apr 16
ooohhhh begituuuuuuuuuu... ini baru komplit infonya... thank you bossssssssssssssss.... wah kalo ada pic perkebunan kayu aro mau dong saya liattt
beningbanyubiru wrote on Apr 16
jj0104 said
ooohhhh begituuuuuuuuuu... ini baru komplit infonya... thank you bossssssssssssssss.... wah kalo ada pic perkebunan kayu aro mau dong saya liattt
boleh, great idea, besok aku posting di edisi lanjutan, sambili nuntasin cerita....belum kelar juga kok....
jj0104 wrote on Apr 17
nahhh tiu donggg, soalnya kita cewek2 nih susah kalo jalan sendiri sementara petunjuknya ga jelas naik apa, dimana naiknya, berapa jam jalan, terus udah gak berani deh kalo daki2 gn .. bukan apa-apa sih.. itu lho takut ular di pohon bo!! jadinya mo diem nginep di kbn teh kayu aro aja deh,, seminggu-seminggu deh asal peaceeeeeeeeeee....
beningbanyubiru wrote on Apr 17
jj0104 said
nahhh tiu donggg, soalnya kita cewek2 nih susah kalo jalan sendiri sementara petunjuknya ga jelas naik apa, dimana naiknya, berapa jam jalan, terus udah gak berani deh kalo daki2 gn .. bukan apa-apa sih.. itu lho takut ular di pohon bo!! jadinya mo diem nginep di kbn teh kayu aro aja deh,, seminggu-seminggu deh asal peaceeeeeeeeeee....
wah kalo itinerary, nanti bisa aku buatin n kirim via email aja bu, mungkin lebih lengkap malah. Daripada nginep di kebun teh, mending sekalian di homestay yang ada di kersik tuo khan...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help