Blog EntryKesendirian dan Lagu Para Pengembara Mar 18, '08 1:18 AM
for everyone
Tentang Elang
Elang, demikian nama binatang terbang itu. Sejak kecil, saat mulai tumbuh di pelosok pedusunan, tak jauh dari Gunung Merapi, aku telah mengenal elang sebagai ; bido, burung besar yang sering menyantap ayam-ayam peliharaan kami. Persepsiku di masa itu, elang mewakili sebuah gambaran yang jahat.
Beranjak besar, belajar mengenal alam semesta, disitulah gambaran mengenai sosok pemburu bernama elang serta merta berubah menjadi semburat kekaguman. Mulailah, disaat begitu sering menenggelamkan diri di hutan-hutan lereng Gunung Slamet, menunggu, menikmati elang yang melayang tenang, sambil menirukan keras teriaknya. Dia adalah sosok perkasa, dengan tenang melayang, dan bila perlu ; sendirian. The eagle flies alone, adalah filosofi bagi para pengembara perkasa, yang mengidentifikasikan diri seperti elang, belajar menjadi figur yang mandiri. Keperkasaan itu dikuatkan dengan dominasi elang menjadi lambang kejayaan suatu bangsa, salah satunya Indonesia ; Garuda.

Barisan Pengembara !
Kita tidak sedang berbicara tentang binatang, selain semangatnya yang mewarisi kekuatan alam semesta. Kita akan berbicara tentang manusia yang memiliki semangat melebihi binatang, untuk menjalani pilihannya, kemudian dengan bahagia mengambil resikonya. Sebuah resiko yang paling nyata, seringkali, dalam banyak hal, dia harus sendirian, sampai di satu waktu, orang-orang akan mengerti, dan kemudian memilihnya sebagai tempat belajar. Sebut saja Pramoedya, Gie, Norman Edwin, Darwin, Mallory, Tan Malaka, Gandhi, Guevara dan tentu masih banyak lagi, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Mereka, dan sebagian dari kita, barangkali adalah manusia yang berpikir dan bertindak melampaui zamannya,sehingga sedikit sulit dimenerti oleh orang2 yang hidup di jaman yang sama. Dan itu sangat melelahkan. Almarhum Norman Edwin, seorang ayah dari sahabat yang juga aku kagumi ; Melati bahkan mengatakan membahas sesuatu, mengenai naik gunung dan petualangan lain dengan orang yang tak memiliki pandangan yang sama dengan kita, hanya akan memunculkan perdebatan tak berkeputusan. Sungguh berbeda saat orang menjadikan alam bebas sebagai jalan hidupnya, dengan manusia yang melihat mendaki gunung adalah "sebuah kesia-siaan" yang " tidak untuk apa-apa". Berbeda pula, seperti Herman Lantang dalam pengantar buku Jejak Sang Beruang Gunung-nya Ganezh, mengatakan para "pejalan" yang sekedar mencari popularitas, berhenti setelah nafsu akan gengsinya dicapai, dengan publikasi yang besar2an. Mereka tak akan pernah menjadi petualang yang sebenarnya.

Kerinci dan Agustinus Wibowo
Sama seperti 8 tahun lalu, saat aku berangkat ke Rinjani, beberapa teman tiba2 membatalkan, karena berbagai hal yang bisa dipahami. Dan aku berangkat  sendirian ke Rinjani, meskipun pada akhirnya disana bertemu dengan beberapa teman lama, pendaki dari Solo dan Malang. Saat ini, sehari menjelang ke Kerinci, tiba-tiba teman yang rencanaya jalan bersama ke Kerinci sakit dan harus batal. Yup, rencana tak boleh diubah. Sampai, suatu sore, beberapa hari silam tiba2 Gus Weng terlihat online, dan kami berbicara mengenai beberapa hal. Jelas, meski beberapa tahun lebih muda dariku, agus adalah buku terbuka yang berisi semangat itu sendiri. Berbicara tentang Tajikistan, negeri yang sudah dia lewati dalam petualangan besarnya, kami masih berdebat soal "kualitas". Bagiku cara pandangnya tentang sejarah Bangsa Tajik sangatlah mengagumkan, dan tetap saja, sikap rendah hatinya, yang juga luar biasa, menjadikan anak itu "ngeyel", bahwa tulisane bisa-biasa saja.
Kemudian, kami berbicara tentang impian kami ; Afrika Barat, 2 atau tiga tahun lagi. Sebuah negeri asing yang luar biasa, dengan alam yang menantang dan budaya yang tentu menakjubkan, ternyata sama-sama diinginkan menjadi salah satu "terminal" kami. Bedanya, Agus ingin mencapainya sebagai bagian dari perjalanan ke arah "baratnya", yang sekarang telah mencapai Afganistan ( dan habis duit ya cak he he ), sedangkan aku mesti banting tulang dulu, menabung dan itupun entah kapan akan cukup. Jelas beda kualitas, beda kelas.
Tapi bukan "mimpi" kami itu moral utamanya, yang secara teknis belum ketemu cara mencapainya, mungkin takdirlah yang akan membawa kami, atau salah satu dari kami kesana, semoga...dan Agus akan "menangkap" saripati budaya, bahasa disana, dan akan dilengkapi denga menangkap warna dan makna alam liarnya.
Tak sengaja, berbincang singkat dengan Gus Weng, membuat aku harus menelan ludah, mentertawakan diriku sendiri, yang sempat bingung saat nampaknya mesti sendirian ke Kerinci. Agus sendirian di Kabul sana, dengan begitu nikmat, meski sesekali bom dan peluru mengincarnya, sedang aku sudah mulai tertekan dengan batalnya beberapa teman. Setelah itu, Kerinci nampak menjadi begitu dekat.
Tiba2, aku malah menjadi tak sabar untuk segera bisa ada disana, entah nanti bertemu teman-teman yang akan juga naik, atau mesti hanya sendirian.
Karena, pada dasarnya selama kita mau belajar dan menghormati alam bebas secara sunguh-sungguh, kita tak pernah sendirian. Aku hanya ingin segera sampai puncaknya, kembali selamat untuk beberapa hal yang  lain termasuk; bertemu Melati untuk "sesuatu", dan mempersiapkan diri untuk mimpi besar yang lain.
Dan tiba-tiba, keesokan harinya, sosok Agustinus Wibowo muncul setengah halaman penuh di Harian Kompas....sang pengembara. Diamput....


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
emmaku wrote on Mar 18
Alone ...but not lonely kan...
simasa wrote on Mar 18
Selamat mengepakkan sayap ke Kerinci Pak Lik, puncake wis cedak banget kuwi ;)
Mugo2 takdir ndang nggowo awakmu nang Afrika.
emcho wrote on Mar 18
kerinci....
pengennnnnnnn
beningbanyubiru wrote on Mar 18
emmaku said
Alone ...but not lonely kan...
ada bidadari di sana ma...
beningbanyubiru wrote on Mar 18
simasa said
Selamat mengepakkan sayap ke Kerinci Pak Lik, puncake wis cedak banget kuwi ;)
Mugo2 takdir ndang nggowo awakmu nang Afrika.
matur nuwun budhe
harumanis wrote on Mar 18
ga kuat lagi...*ngos2an*
hehe....
ambarbriastuti wrote on Mar 18
hm...'sesuatu yang besar tengah menanti' ....sing ngati-ati jo, it's only yourself who can rely on. Ora ono bolo durung tentu ora ana kanca. Diamput !
dieskacute wrote on Mar 19
met jalan2 ke kerinci mas...
salam ma puncak kerinci yah....
beningbanyubiru wrote on Mar 23
hm...'sesuatu yang besar tengah menanti' ....sing ngati-ati jo, it's only yourself who can rely on. Ora ono bolo durung tentu ora ana kanca. Diamput !
iyo mbak..Kerinci, Gn 7 dah lewat Jumat pagi kemarin, bersama beberapa teman baru. Yuk membangun mimpi besar itu bareng2.....jogjanese goes to Kongo he he
beningbanyubiru wrote on Mar 23
Friska, salam buat Puncak Kerinci dah aku sampaikan, tepat, Jumat, 21 Maret, jam 09.00 pagi...
ariesca wrote on Mar 23
ditunggu foto-fotonya :)
nengarum wrote on Mar 25
mas ajarin ngedit multiply.. hehehe :)
nengarum wrote on Mar 25
mas, jadi sebelum agustinus ada di koran kompas, mas ngobrol dulu ma mas agus?? sungguh tak terduga..
ah mas agus keren.. mas juga keren..

keren abis..
beningbanyubiru wrote on Mar 25
mas, jadi sebelum agustinus ada di koran kompas, mas ngobrol dulu ma mas agus?? sungguh tak terduga..
ah mas agus keren.. mas juga keren..

keren abis..
hai arum...yup, kmrn sempat berbincang dengan gus weng, yah ternyata dia bisa jadi penyemangat. Dia luarbiasa rum, aku bukan apa-apanya....kita doakan pengembaraannya sukses, dan kemudian agus mau nulis buku untuk berbagi kepada kita semua. Edit multiply, wah...aku juga orang kampung yang gaptek neh...
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help