Blog EntryLebaran Penuh IklanOct 10, '07 11:12 PM
for everyone
Rasa-rasanya, semenjak beberapa tahun terakhir ini bulan puasa, yang diakhiri dengan hari raya lebaran tak lagi menjadi sesuatu dinanti-nanti, kecuali karena pasti libur agak panjang. Entah karena peradaban manusia telah sampai kepada situasi dimana agama hanyalah sekedar rutinitas, atau memang karena aku sendiri makin tak nyaman dengan perkembangan zaman.
Sungguh berbeda saat berpuluh tahun lampau, bulan puasa di sebuah kampung yang hening, tanpa listrik dan dibuai desah angin serta binatang malam, sayup-sayup terdengar suara Ibu mengaji dengan lirihnya. Hidup terasa berhenti di saat seperti itu.
Zaman telah berubah, demikian pula suasana dalam bulan puasa...dan kita tak mampu membantahnya. Saat berbuka, makan sahur tak lagi hening. Televisi telah menggantikan nasihat-nasihat ibu kepada anak di saat-saat menyenangkan tersebut. Iklan-iklan telah menggantikan, atau barangkali mengacaukan suasana  dengan selera baru yang menerobos kepada ruang-ruang keluarga, bahkan jiwa kita. Peradaban yang merisaukan banyak kalangan telah tiba, dan kita nikmat berada di dalamnya.
Aku tak lagi begitu menantikan Lebaran yang telah penuh iklan, kecuali karena aku pasti akan menemukan ruang utuh bersama orang-orang tercinta. Setelah setahun terpisah seperti potongan puzzle, tiba-tiba ada sebuah momentum yang mengikat kita semua, dan membuat orang rela melakukan apa saja untuk sesuatu yang bernama ; mudik. Itulah identitas kita saat ini. Bukan lagi soal surga atau neraka, namun lebih kepada upaya mempertegas bahwa kita memiliki asal, sangkan paran yang bernama ; kampung halaman. Terra Matter, dalam terminologi latin, atau ibu pertiwi yang bisa bernama ; Jogja, Semarang, Malang, Jember, Bukittinggi atau sebuah pelosok tak dikenal bernama ; Keniten.
Sudah 2 lebaran terakhir aku tak kembali kepada identitasku. Dua tahun yang lalu di Meulaboh, dan yang kemarin di Papua. Bukan karena menolak Lebaran, tapi mencari rasa nyaman dengan tak berdesak atau berebu kendaraan. Toh setelah lebaran bisa pulang juga.
Saat ini, sehari menjelang Lebaran versi Muhammadiyah, aku telah di kampung halamanku. Namun tak ada jaminan aku bisa Lebaran dan sungkem setelah Shalat Id di rumah, karena apabila tiba-tiba Gunung Kelud meletus nanti malam atau besok pagi, saat itu pulalah aku harus berangkat kesana. Kebetulan, secara sepihak aku didapuk masuk tim emergency response gunung itu. Tak apa, tak ada bedanya Lebaran di gunung atau di rumah yang penuh iklan......Met Lebaran, Mohon Maaf Lahir Batin

gried wrote on Oct 11, '07
mas Nanung.. mskpn br ktemu sekali punten dimaafkeun kesalahan2ku juga yaa... :)
beningbanyubiru wrote on Oct 11, '07
aku maafkan , nak inggrid...
ambarbriastuti wrote on Oct 11, '07
enak nek neng omah Nung, adoh soko hiruk pikuk duniawi
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help