Jum'at, 14 Sept 07. Hidup memang penuh keajaiban-keajaiban, biasanya datang tanpa disangka. Hari itu aku mendapat pesan singkat ; segera cari tiket pesawat ke Kupang. Oleh lembaga dana pembangunan dari sebuah "negeri tetangga", aku diminta untuk membantu menyusun renstra pengurangan resiko kematian ibu melahirkan di NTT, khususnya di Ende, Maumere dan Waingapu. Tanpa berpikir panjang apakah aku kompeten atau tidak untuk melakukan itu, langsung aku iyakan. Aku belum pernah ke NTT sebelumnya, kecuali sebuah kunjungan singkat ke Labuhan Bajo, Flores, beberapa tahun lampau. Sayangnya aku hanya mendapatkan tiket Surabaya-Kupang, hari Senin...dan Jogjakarta-Surabaya harus di jalani dengan travel. Tak apalah. Segera terbayang dibenakku, negeri kering dengan lautan yang menakjubkan, serta orang-orang gagah dengan sorot mata tajam ; orang Timor. Juga lautan savana kering berwarna kekuningan, sesekali dibelah oleh iring-iringan penunggang kuda ; Sumba
Minggu, 16 Sept 07. Malam datang, Jogjakarta berangsur menjadi gelap, meski tetap dipenuhi oleh motor yang berlalu-lalang. Aku berangkat menuju Surabaya menggunakan travel, sebuah perjalanan cukup melelahkan. Terbayang, akan segera bertemu dengan teman-teman baik di Surabaya.
Senin,17 Sept 07. Menjelang pagi sampai di kota penuh legenda ini ; kepahlawanan, panas dan tentu saja amuk Bonek. Mampir di tempat Nurul, manusia tampan yang nampaknya kurang pantes jadi dokter gigi (maaf he he). Sempat diajak "observasi" di FKG Unair ( muantep rek ), bertemu lagi dengan Denti Nariswari dkk, reunian Semeru. Tak lupa ke JTV dan ngangsu kawruh dari Ebeng, serta ambil tiket ke Kupang di kantor Mbak Siti. Thanks atas tiket murahnya ya. Menjelang sore diantar Nurul ke bandara, mengendarai motor, membelah panas dan debu Surabaya.
Kupang, 17/9/07, malam. Hampir dua jam perjalanan dari Surabaya-Kupang, dan tanpa melihat apapun selain kegelapan, meski telah milih duduk di window seat. Namun menjelang landing, Kupang nampak dari udara. Saat lampu batavia air dimatikan, mulai terlihat keindahan kota itu di malam hari. Hamparan lampu yang terlihat dari atas memunculkan siluet yang mengagumkan. Mungkin sama dengan kota-kota lain juga, akan indah bila dilihat dari udara, dimalam hari. Sesaat setelah mendarat di bandara El Tari, langsung dijemput oleh Edo, pemuda Timor yang menjadi driver di kantor lembaga tersebut. Ah, bukan makan malam yang lezat, atau berendam di bath up hotel yang nyaman aku dapat ; diskusi maraton sekaligus orientasi dengan beberapa kepala dinas kesehatan kabupaten di NTT. Sambil menahan lapar, suntuk, panas aku ikuti sampai kelar. Menjelang tengah malam, baru "bebas", nyari makan yang ternyata "nemunya" tetap ' jawa lagi, jawa lagi ; soto ayam lamongan. Malam itu, meringkuk kedinginan karena AC ganas, mulai menabur mimpi soal perjalanan besok pagi ke Sumba.
Selasa,18/9/07. terang benderang di Kota Kupang, terlihat wajah-wajah khas Timor mendominasi jalanan, termasuk angkutan kota yang berdebam dipenuhi musik bersuara keras. Baru kali ini, melihat wajah hitam manis perempuan Timor, di tempatnya langsung. Udara dan hawa panas langsung mencekik wajahku. Sempat jalan-jalan sebentar di sekitar Hotel Flobamorr, tempatku menginap, sebelum berangkat untuk flight ke Sumba. Berita menyedihkan aku terima ; di Waingapu hanya akan sebentar, sekedar bertemu dan berbincang dengan kepala dinas kesehetan setempat, untuk kemudian pulang lagi. Kecewa juga, tapi hadapi dengan senyum, kata Dewa 19. Sumba, hamparan pegunungan diselipi dengan hamparan savana terasa indah dilihat dari pesawat kecil itu. Tak lupa, lauatan biru indah yang mulai terlihat sejak dari Teluk Kupang, Pulau Rote, Laut Sawu dan tentu saja Pantai Sumba. Berada di Sumba, meski tak lama membuatku teringat kepada Malioboro. Kenapa ? Karena disinilah negeri dari begawan seni Malioboro era 80-an ; Umbu Landu Paranggi. Penyair legendaris sekaligus "Presiden Malioboro", yang juga mentor dari Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade dan seniman Jogja yang lain "sebelum" digusur oleh mall dan keramaian yang menjemukan seperti sekarang berasal dari Sumba. Konon, beliau saat ini sedang "menyepi" di pedalaman Bali, dan tetap bersahaja ; mengembangkan budaya dan bakat seni anak-anak Pulau Dewata. Teringat juga aku perbincangan singkat dengan Melati, putri almarhum Norman Edwin, salah satu nabi para petualang negeri ini yang sungguh aku hormati. Melati pernah di ajak Norman ke Sumba. Ah, sungguh aku iri dengan bapak-anak itu. Siang hari, aku sudah kembali ke Kupang, acara bebas dan aku akan memulai episode backpackerku.
Tersesat di Kupang. Siang itu, aku memutuskan kembali ke habitat ; bercelana pendek, backpack dan menjajal seluruh angkot yang lewat, tanpa peta. Baru jalan beberapa saat, aku dah nemu warnet, tepatnya di kantor telkom Kupang. Yah, lambat dan 7000/jam. Cuma beberapa saat chat dengan Yuni, teman yang sedang bahagia karena akan dikirim ke Jepang, dan Melati, akhirnya aku gak mau buang waktu untuk terus berjalan mengelilingi Kupang dan sekitar. Menjelang senja, aku naik angkutan "lampu 5" (lampu untuk menandai nomor angkutan dan jurusan), aku pikir arahnya ke pantai. 10 menit kemudian aku smapai di pantai indah bernama Teddy's Beach. Aku gak sempat tanya, kenapa dinamain seperti itu. Cuman, banyak penjual jagung dan ikan bakar di sana dengan sapaan manis ; ayo kaka, jagung di coba. Lupa kalo puasa, aku pesan jagung bakar, 5 menit sebelum magrib. Oleh mama penjual yang aseli suku Soe, dekat Tim-Tim, dikasih sambal yang disertai oleh sayuran khas Timor. Rasanya pedas, aneh, tapi enak. Bosan disitu, aku naik angkut lagi, gak tahu kemana, aku pikir balik ke kota. Sampai di teluk Kupang, aku berhenti, menyaksikan kejadian alam yang luar biasa. Di barat sana, di ujung laut mentari berwarna merah jingga, bundar dan sangat dekat siap ditelan lautan. Belum pernah aku menyaksikan sun set yang seperti itu sebelumnya, dekat dan merah. Mentari tenggelam, aku naik angkot lagi. Setengah jam kemudian, kok malah semakin sepi. Aku malas bertanya...sampai setelah melewati batas kota, aku gak tahan lagi dan bertanya ke seorang perempuan Timor yang sungguh manis di sebelahku. "ini ke arah luar kota kaka, ke arah Kefamenanu, atau Atambua, jadi kaka kalau mau ke Dili tinggal 7 jam lagi". Ha ? Sudah gelap dan sepi, aku buru-buru turun dan balik arah, untung masih dapat angkotan ke Kupang, meski berdesakan. Tengah malam akhirnya baru sampai di hotel, ambruk kekenyangan makan mie ayam di depan hotel. Lagi-lagi orang jawa timur yang jualan.
Rabu,19/09/07. Semua agenda ternyata bisa selesai lebih cepat, siang ini aku balik ke Jogjakarta. Pagi aku habiskan untuk mengulangi lagi episode kesasar tadi malam. bedanya, aku menyewa taksi, aku ajak mutar-mutar, keliling pantai sekaligus langsung ke bandara. Yah, terlihat sekali gersang dan panasnya Pulau Timor. Sungguh salut aku dengan orang yang tinggal disini, mereka kumpulan orang-orang perkasa. Tak ada sawah, kebun atau taman, selain karang-karang yang menonjol. Oleh Abe, orang Soe yang jadi sopir rental di Hotel Floobamorr, aku diajak ke penjual "Sophie" di daerah Kelapa Lima, dekat Sasando. Aku beli sebotol minuman keras lokal tersebut, 10,000, rencananya aku bawa buat teman-teman di Jogja, sambil berharap bisa lolos xray di Kupang maupun Surabaya. Akhirnya, sekitar jam 2 siang waktu Kupang, datang juga Sriwijaya Air yang akan mengangkutku ke Surabaya, kemudian nyambung ke Jogja. Sesaat setelah take off, barisan keindahan terlihat sampai di Surabaya, setidaknya versiku. Mulai dari Pantai Kupang, Pulau Rote, Sumba, serta Gn Tambora saat melintasi Sumbawa. Tak lama ke arah barat, nampak Puncak Rinjani dengan Segara Anakan dan Gunung Baru-nya, masih terbang rendah sedikit berbelok Gunung Agung mulai nampak. Melintasi selat Bali, berturutan Ijen, Raung, Argopuro serta deret Bromo Tengger-Semeru. Tak lama, pesawat merendah melintasi pemandangan dan tragedi yang belum terselesaikan ; Lumpur Lapindo, kemudian mendarat di Surabaya. Sekitar 3 jam menunggu dengan hati sumpek di Surabaya, akhirnya datang juga pesawat yang mengangkutku ke negeri tercinta ; Jogjakarta. Tak terasa, tengah malam itu aku sudah kembali berselimut di kamarku, membawa mimpi tunggal ; aku harus kembali ke negeri itu, suatu saat nanti.