Blog EntryMenuju Puncak Garuda, Merapi.Sep 5, '07 12:15 PM
for everyone

Menuju  Puncak Garuda, 2968 mdpl

( Thanks to  Siti & Dias)

 

Serba Mendadak

Sabtu Siang, 1 September 2007

Siang itu aku masih berada di pinggir sungai Elo, Magelang. Tepatnya di lokasi istirahat, menemani Eka, sahabat dari Jakarta yang ber-arung jeram untuk kali pertama di Elo. Ada juga Siti, teman dari Surabaya yang kampungnya asli pinggiran Magelang. Tak ketinggalan, Widya dari Jogjakarta dan Jiang, gadis manis volunter dari Korea Selatan yang sedang belajar bahasa Indonesia di Jogjakarta. Menakjubkan, aku menjadi lelaki di dalam gerombolan perempuan manis pemanggul dayung.

Saat teman-teman istirahat menikmati kelapa muda, aku mengajak anak-anak kampung memainkan perahu di belokan sungai yang tenang, membasahi kaki dengan air yang aku rindukan, sambil memberi aba-aba pada mereka yang nampak gembira menaiki perahu sambil mengayuh dayung.

Tapi bukan itu inti ceritanya. Tiba-tiba muncul  ide mengajak Siti untuk naik ke Merapi. Singkat cerita, dia setuju namun hari Minggu sore dan akan mengajak Dias, teman mungil di Surabaya. Dan, tiba-tiba  kami sudah punya rencana untuk mendaki Merapi melalui jalur Plalangan, Selo. Kami-pun  menikmati senja di Candi Borobudur, namun pikiran tetap berada di Merapi. Malam itu, aku mesti melewatkan kesempatan ikut berdiskusi bareng  dengan Andrea Hirata.  Hidup memang berupa pilihan-pilihan.

 

Minggu , 2 September

Aku belum persiapan apapun, selain berjanji kepada Dias bahwa sore itu aku akan menjemputnya kemudian bersama-sama menuju Selo, bertemu Siti yang akan menunggu disana. Pagi itu, aku masih bertugas menjadi ‘baby sitter’, menemani teman-teman Jakarta main ke Kaliurang. Ah, balik lagi ke Bebeng dan Kalikuning. Tak apalah, tak ada salahnya meski bosan juga. Ehm, lucu juga saat Santi, salah seorang teman heran saat melihat gunung yang sebenarnya, ternyata tak seperti gambar segitiga seperti pelajaran melukis kala SD. Atau kagumnya dia saat berada di Kalikuning, dengan airnya yang jernih. Ternyata beruntung juga menjadi anak desa, pikirku. Dan sore itu, setelah menikmati sego abang-sayur lombok ijo di Pakem, kami turun ke Jogja. Aku harus menjemput Dias, yang ternyata memberi kabar bahwa dia agak terlambat sampai Jogjakarta, ada sedikit kemacetan di Bungur dan Caruban.

 

17.00

Aku sedang menyiapkan beberapa peralatan, saat Dias memberi kabar sudah masuk Jogja dan menuju Gamping, tempat dimana aku akan jemput dia. Akupun meluncur, dan ternyata baru 1 ½ jam kemudian dia datang. Lega juga melihat wajah mungil itu datang, meski nampak sekali keletihan mendera. Istirahat sebentar, mandi dan cek perlengkapan yang tak banyak, kami siap-siap berangkat.

 

 

18.30.

Jogjakarta sudah beranjak gelap, kami bergegas menuju Magelang, bertemu Siti untuk kemudian sama-sama ‘touring’ di malam dingin menuju Selo. Rasanya tak tega juga melihat Dias yang baru datang dari Surabaya, harus membonceng motor selama dua jam, dingin dan berangin, tanpa helm. Ah biarlah, anak itu pasti kuat, pikirku. Ada sedikit trouble dengan motor, beberapa kali mogok, ternyata cover bag Dias nyangkut di rantai motor. Bukan masalah besar. Jam 8 malam, kami menemukan Siti dan adiknya di Mblabak, berbelanja logistic dan menuju Selo. Dingin, gelap, dan kami hanya diam di perjalanan.

 

22.00

Sampai di Selo, merealisasikan mimpi Dias untuk menikmati sate kambing sebelum memulai pendakian. Ah, penjualnya ternyata masih mengenalnya, kala mampir beberapa tahun lalu sehabis mendaki Merbabu, dan makan tengkleng cukup banyak. Selanjutnya kami menuju rumah Pak Min di Plalangan, menitipkan motor dan beberapa barang, serta mempersiapkan diri menuju pendakian malam itu. Karena nampak letih, kami biarkan Dias tidur terlebih dahulu, sebelum tepat tengah malam kami akan berangkat. Ugh, padahal aku tak kurang capeknya karena pagi tadi mesti naik-turun tebing di Kalikuning.

 

Senin, 3 September

00.00

Setelah sebelumnya  membangunkan Dias, kami bertiga berangkat meninggalkan Dusun Plalangan di ketinggian 1500 mdpl. Langit cerah berbintang, nampak Merbabu gagah di seberang. Siti akan menjadi leader, Dias di tengah dan aku sendiri di belakang. Agak ragu juga awalnya, kuat gak ya dengkul ini membawa tubuh yang sudah teramat melar. Tapi, apapun harus dicoba dulu bukan ? Sepi sekali malam itu, tak ada pendaki lain yang naik. Baru sekitar ¼ jam berjalan, sebelum New Selo, Dias muntah-muntah. Siti sudah di depan, dan aku menemani Dias menstabilkan kondisinya. Kalau memang sakit, tak harus dipaksain, ujarku tak yakin. Tapi, seperti anak gunung lain, dia pasti bertahan, memuntahkan sate yang baru dimakannya, kembali meneruskan berjalan, menusul Siti yang tidur menunggu di New Selo. Sempat beristirahat sejenak, kami berjalan  memasuki kebun tembakau penduduk, jalur mulai menanjak serta sungguh berdebu. Nah, sweeper pastilah paling menjadi korban. Tak apalah.

 

01.00

Masih mencari-cari jalur alternative Kartini yang berbelok ke kiri, memotong jalan langsung sampai di jalur tepat di bawah Pasar Bubrah, saat tiba-tiba Dias muntah-muntah lagi di pinggir kebun tembakau. Anehnya, setelah itu justru dia nampak lebih fit, dan kami kembali berjalan menembus hening malam. Merbabu, kartika (bintang) dan sasadara (rembulan) masih nampak sangat indah di seberang.

 

02,00

Akhirnya sebelum Pal I, kami menemukan jalur ke kiri, dan nampak cukup jelas, pertanda sering dilewati. Memotong dan menyisir punggungan, jalur ini cukup nyaman karena masih banyak Kaliandra, Pinus dan rumput di sepanjang jalur. Selain itu tak terlalu terjal menanjak. Sedikit insiden kecil saat  tiba-tiba Siti berteriak kaget karena “bertemu” hantu bertopi. Ah, hanya bayanganmu Sit, ujarku menenangkan, meski aku yakin memang banyak mahluk halus bergentayangan di sana. Setelah itu kami lebih rapat berjalan, sampai tiba-tiba kami sudah berada di jalan terjal dengan vegetasi savanna. Angin menderu kencang sekali.

 

04.00

Angin sangat kencang menerpa kami yang rapuh di jalur terbuka itu, kami memutuskan istirahat, tak jauh dari pertemuan dengan jalur Watu Belah. Aku menemukan posisi rumput yang ideal untuk tidur, Dias dan Siti tak jauh di atasku. Masih kepagian, pikir kami, sambil menguatkan alasan untuk tidur. Dias beberapa kali kudengar memanggil, tapi mood untuk memejamkan mata ternyata lebih kuat. Tanpa sadar kami tidur di rerumputan, di padang terbuka. Seperti kata Whitman ; the secret of the making of best person, is to grow, sleep and eat on the open air.

 

05.00

Kami terbangun, angin sudah berhenti namun dingin terasa sangat menusuk. Di sebelah timur, cakrawala di sekitar Gunung Lawu nampak memerah., menandakan mentari tak lama lagi tiba. Kami bergegas berjalan menuju ke atas.

 

06.00

Tepat tiba di titik pertemuan dengan jalur Watubelah, saat itu pula matahari mulai muncul, seakan dilahirkan oleh langit Gunung Lawu. Di seberang, deretan Gn Sumbing, Sindoro, Slamet dan Ciremai nampak samar-samar. Teman-teman mengabadikan sun rise indah pagi itu, aku melangkah duluan, menuju Pasar Bubrah.

 

06.30

Sendirian di Pasar Bubrah, senyap tapi dari arah puncak nampak dua orang sedang turun, bule dan satu pemandu lokal. Ternyata suami penjual Sate di Selo dan seorang pendaki Perancis. Kopi panasku untuk mereka, sambil berbincang beberapa hal, sampai saat Dias dan Siti tiba bergabung. Si bule turun, kami bersiap untuk summit attack. Tak lupa aku membuat mie dan kopi, sedang Siti makan bubur. Pasar Bubrah begitu sepi, seakan hanya milik kami bertiga. Karena itu, tas kami tinggal, bersiap ke atas. Tak lupa, ritual ‘membebat ‘dengkul dengan kain elastis. Bagian tubuh ini yang paling aku kuatirkan.

 

MENUJU PUNCAK

07.30

Panas mulai menyengat, dan kami bergerak ke atas, menatap pesimis kepada tebing terjal yang membentengi Puncak Garuda. Sesaat sebelum menaiki tebing, kegilaan dimulai. Berfoto ria dengan kostum dan posisi yang aneh, tiduran, menari-nari, narsis habis. Sudahlah, barangkali ini tanda kami akan sukses sampai puncak sebentar lagi.

Kami meneruskan perjalanan, aku di depan, melangkah hati-hati, merayap di tebing terjal, menghindari batu labil yang bisa beresiko bagi Dias dan Siti di belakangku. Semakin panas hari itu, bau belerang mulai tercium.

 

08.50

Beberapa saat sebelum puncak, aku dan Siti berhenti, kami sepakat untuk memberi kesempatan bagi Dias untuk menjadi yang pertama menginjak puncak. Namun dia malah berkata ; mas, aku sampai sini aja ya. Ah, tak lama lagi As, tanggung dan jauh-jauh kok. Diapun melangkah. Sampai di atas kawah mati dan belok kanan menuju puncak, aku lihat semangatnya menjadi berlipat, sampai akhirnya dia menginjakkan kaki di lapangan kecil, di dekat puncak Garuda. Kami bersalaman, saling mengucap selamat, kami tiba di Puncak Merapi, pagi menjelang siang itu. Aku yakin, sama sepertiku, Dias dan Siti juga merasa bahagia. Meski Siti masih nampak sibuk, mengurus ijin bolos ke kantornya.

 

09.00

Edisi narsis di mulai. Hanya kami bertiga di Puncak Merapi saat itu. Setelah berfoto dengan gaya agak serius di Puncak Garuda, edisi nyleneh mengikuti ajaran Siti dimulai. Berfoto dengan berbagai posisi, latar dan kostum seperti anak kecil pun dilakukan. Aku tak pernah seperti itu sebelumnya, tapi pengaruh Siti begitu besar, dan ternyata menjadi sedikit gila di puncak gunung menumbuhkan rasa nyaman.

Aku dan Dias menghitung gunung-gunung yang nampak dari Merapi pagi itu ; Merbabu, Telomoyo, Lawu, Ungaran. Sindoro, Sumbing, Slamet, Prahu, Ciremai dan jauh di barat-selatan sana kemungkinan ; Galunggung. Di ujung utara, gundukan hitam nampak, aku kira dengan sedikit sok tahu ; gunung Muria. Teringat kami pada Nurul, teman yang lucu di Surabaya sana yang rumahnya tak jauh dari Gunung Muria.

 

TURUN

09.30

Setelah puas berada di puncak, kami bergerak turun, menuruni tebing terjal dengan hati-hati. Tapak kaki kami saat naik telah hilang, dan kami kehilangan jalur, terjebak di bebatuan berpasir yang cukup membahayakan. Siti nekat turun dan aku menyeberang ke kiri, mencari jalur yang semestinya. Dias di belakangku.

 

10.30

Kamipun sampai di Pasar Bubrah, mengambil tas dan bergerak turun, kami sepakat memakai jalur berbeda ; sampai di Pal I dan belok ke kanan. Air minumku sudah habis, dan untuk soal yang satu ini aku harus berbagi dengan Dias.

Ternyata turun tak lebih mudah daripada naik, apalagi jalur berbatu labil yang bisa membuat kami jatuh kapan saja. Sempat bertemu dengan seorang pendaki Ukraina, yang tak tampak seperti sedang naik gunung ; sandal jepit, tas belanja dan hanya sedikit air minum. Siti memberinya satu botol lagi, karena kuatir dengan kondisi itu, semoga dia selamat.

 

12.00

Tepat sebelum Pal I, kami istirahat setelah sepakat akan berbelok ke kanan, menyingkat jalur. Disitu kami ‘ngrasani’ Nurul, dan berdiskusi soal beberapa masalah akademis, maklum, Dias masih sekolah. Dan, Siti-pun mulai tertidur saat aku membangunkannya, mengajak turun. Saat turun itulah, dia menghilang karena jalannya begitu cepat, sementara aku masih harus berhati-hati dengan dengkulku yang belum sembuh betul setelah cidera saat menuruni Puncak Mahameru. Dias-pun cukup lambat, sehingga kami bersama sampai setibanya kami di New Selo. Di tengah jalan, ada keanehan saat kami menemui beberapa muda-mudi sedang berpacaran di tengah kebun tembakau. Apa gak ada tempat lain, pikirku. Dias pasti akan ter-inspirasi melakukan hal yang sama nih, aku menggodanya. Setelah sempat menikmati es di New Selo, kami menyusul Siti di base camp. Nampak dia masih di luar rumah Pak Min. Aku membukakan pintu setelah masuk lewat dapur, serta mulai menata barang-barang, bersiap turun.

 

14.30

Tak ada air di base camp siang itu, dan setelah mengucap terimakasih kepada Mbah Min putri, kami turun ke Selo. Rencananya mandi di masjid atau di kantor polisi sambil “farewell party”, memesan ; tengkleng, gulai dan tongseng kambing sekaligus. Sore itu, kami makan besar. Sebenarnya satu kesalahan, karena aku masih harus mengendarai motor selama 2 jam menuju Jogjakarta. Sehabis makan pusing mulai terasa, bercampur dengan letih serta kantuk teramat sangat.

 

17.00

Kami menunggu bis terakhir yang akan membawa Dias & Siti ke Boyololali, untuk kemudian pulang ke Surabaya. Sambil berbincang, dan kain merah keramatku dibawa Dias, karena nampaknya dia akan kedinginan setelah celana panjangnya basah. Tak lama bisa yang dinanti tiba, mereka bergegas naik dan akupun pulang ke Jogjakarta, melewati sore dan malam sendirian di tengah jalan berliku dalam pelukan udara dingin Merapi dan Merbabu. Berjuang melawan rasa pusing dan kantuk sepanjang jalan, berharap selamat sampai di rumah, istirahat, menenangkan pikiran, dan mulai berpikir untuk menyiapkan perjalananan selanjutnya. 2 jam kemudian aku sudah tidur berselimut dan mulai bermimpi…..

 

Sampun pungkasan.

 


ambarbriastuti wrote on Sep 5, '07
makin kompak aja boss?
beningbanyubiru wrote on Sep 5, '07
makin kompak aja boss?
halah mbakyu.....he eh, mumpung isik nang omah ki. Kapan mulih ?
ambarbriastuti wrote on Sep 5, '07
Kapan mulih ?
october muleh. Diajak nyang Gede tapi durung yakin. Males neng jakarta-ne
simasa wrote on Sep 5, '07
memuntahkan sate yang baru dimakannya
Dias... dudu aku yo sing crito ;)
simasa wrote on Sep 5, '07
ternyata menjadi sedikit gila di puncak gunung menumbuhkan rasa nyaman.
Huahaha.. Nanung mulai menikmati... ati2 kecanduan ;P
simasa wrote on Sep 5, '07
matur sembah nuwun ugo.. wis dikawal tekan puncak :)
ameecable wrote on Sep 5, '07
yeee.. rugi banget ya klo gak sampe puncak. pengen ke jogya lagi dinkk :)
taklagi19 wrote on Sep 7, '07
memuntahkan sate yang baru dimakannya,
walahh...isin aq
panketshycat wrote on Oct 1, '07
kapan2 aku diajak kesana ya :D
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help