Blog EntrySatu Sore di Kinahrejo ; Dia Manusia BiasaAug 21, '07 4:29 AM
for everyone

Sakdereng & saksampun,  nyuwun ageng pangaksaminipun mbah....

Dua hari sebelum Labuhan Merapi kemarin, yang ditujukan untuk memperingai tahta bagi penguasa kraton Mataram Kasultanan Jogjakarta aku mengunjungi beliau ; Mbah Maridjan. Awalnya adalah sekedar menemani Ais,  seorang teman yang datang dari Jakarta untuk jalan-jalan ke Bebeng, di kaki Merapi. Sebelum naik, kami janjian dengan seorang volcano hunter, yang juga aktivis senior Mermounc, salah satu klub pendaki gunung tertua di negeri ini ; Mas Tonden. Siang itu kami makan bersama di lesehan Lombok Ijo, Pakem. Dari mas satu ini, keluar banyak cerita seputaran gunung Merapi, saat meletus, sejarah pendakian, sampai soal Mbah Maridjan yang sepertinya telah digariskan zaman untuk menjadi tenar. Singkat kata, kami sepakat untuk mampir ke rumah beliau, sekalian melihat barangkali ada yang bisa dibantu buat persiapan labuhan 2 hari selanjutnya.

Menaiki sepeda motor menuju Kinahredjo, melewati pedusunan sejuk di sekitar Kaliurang, benakku melayang kepada sekitar 12 tahun silam. Saat itu, masih dengan style anak sma kampung yang ikut-ikutan naik gunung, sowan dulu ke Mbah Maridjan selaku juru kunci sebelum mendaki Gunung Merapi untuk kali pertama. Rasanya tak ada yang istimewa dengan beliau kala itu ; berbincanng di depan tungku dapur dengan seorang tua khas dusun yang ramah, tulus tapi tegas soal prinsip-prinsip dasar berada di gunung. Tak jauh beda dengan (alm) Pak Bahu Muheri di Bambangan, Gn Slamet, atau bapak Mas Ari di Thekelan, Kopeng (Merbabu), yang sama-sama sebagai "penjaga gunung". Agak berbeda memang saat setahun lalu mengunjungi simbah dengan membawa tamu resmi dari DPRP Nabire, Papua. Menunggu di ruang tamu, menunggu beliau menemui dengan "seragam", dan berbicara dengan bahasa yang lebih banyak basa-basi. Ah...tiba-tiba aku merindukan dapur di belakang rumah simbah. Ketenaran memang sanggup membuat jarak, tapi aku yakin kali ini tidak.

Menjelang senja, kami tiba di rumah simbah. Nampak seorang bule cantik sedang menyapu halaman rumah beliau. Ada juga dua mobil cukup bagus, pasti orang yang mau sowan simbah. Bareng Mas Tonden, yang sudah bukan orang lain di dusun itu, kami langsung menuju dapur. Lewat ruang tamu, nampak serombongan orang sedang menunggu. Ehm, berarti simbah di belakang. Di dapur, di dekat tungku yang aku rindukan, beliau sedang makan, sendirian. Sungguh sederhana, dengan sarung, berkaus dengan motif salah satu operator seluler beliu berkata ; rene le, mangan ndisik. Setelah bersalaman, juga dengan mbah putri, (ada yang cium tangan lho) , aku duduk di dekat tungku, di samping beliau makan. Sungguh masih sama dengan 12 tahun lampau, kecuali saat ini makin sibuk dengan tamu yang beragam. Tiba-tiba aku seperti menemukan kembali simbah yang 12 tahun lampau, saat dengan hampir tanpa batas membicarakan soal persiapan Labuhan, pipa air dari hulu sungai kuning serta hal sederhana lain.

Tak lama, simbah putri mengingatkan bahwa tamu dah nunggu. Aku juga berencana menemani Mas Tonden memeriksa mata air di hulu Kalikuning. Aku lihat beliau akan menemui tamu hanya dengan kaos sederhana yang tadi. Mbah, kok mboten pakai "seragam" ? tanyaku. Wah wis ngene wae, sahut simbah sambil menepuk pundakku. "Simbah ra nduwe seragam", sahut Mbah Putri dari belakang. Beliau menemui tamu, aku, ais dan mas tonden naik ke hulu kali kuning, melihat mata air yang rencananya akan di alirkan ke Kinahredjo. Cukup menguras nafas, naik ke atas, melewati kampung yang setiap bertemu penduduk harus berhenti dan ngobrol sedikit, melintasi hutan pinus, namun sungguh menyegarkan.

Sekitar satu jam, kami kembali ke Kinahredjo, agak buru-buru karena Ais katanya harus cepat-cepat ke bandara dan pulang ke Jakarta. Sempat sebentar membantu putra simbah memperbaiki talang air di rumah depan, mencuci air dan minum teh hangat. Senang rasanya  dimarahin simbah putri karena dikira boros menggunakan air bak mandi. Mbah Maridjan masih menemui tamu, jadi hanya bersalaman sebentar untuk kemudian melanjutkan ke Bebeng dan pulang. Agak malas sebenarnya, rindu rasanya meringkuk di depan tungku dapur rumah mbah maridjan. Dua hari kemudian, aku melihat beliau muncu di televisi, memimpin upacara labuhan, lengkap dengan "seragam" yang gagah. Tapi aku lebih senang dengan beliau dengan kaos sederhana, bersarung juga sederhana..beliau tetaplah simbah yang sejak puluhan tahun lampau, menjadi teman terbaik bagi Merapi, dan juga pendaki....

 

 


peleth wrote on Aug 21, '07
beliau tetaplah simbah yang sejak puluhan tahun lampau, menjadi teman terbaik bagi Merapi, dan juga pendaki....
idem nung...,
simasa wrote on Aug 22, '07
Benar2 rendah hati dan bersahaja mbah ini.. Ketenaran tak mampu melunturkannya..
dboycan05 wrote on Aug 22, '07
Mbah maridjan q cm knal lwat TV(kuku bima roso2) he..q salut salut ma simbah,moga ja mbah pnjg umur, so tar kl q k sn bs ktm simbah lnggsnung,hee.., mas smpein slm knal q buat Mbah Maridjan yo!!!
jennyirma wrote on Aug 22, '07
Simbah wis canggih nek plesetan, le, diajari 'putu-putune' pendaki sing dho kurang gawean, tua-tua isa wagu, ning tetep gemati lan wicaksana
beningbanyubiru wrote on Aug 22, '07
Simbah wis canggih nek plesetan, le, diajari 'putu-putune' pendaki sing dho kurang gawean, tua-tua isa wagu, ning tetep gemati lan wicaksana
Iya mbakyu, mbah putri yo tambah galak, terutama soal air bak..jangan boros2 he he....ayo kapan "gegenen" bareng di rumah simbah mbak ?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help