Sepenggal Surga Terserak di Bumi Papua
(Catatan Perjalanan ke Kepulauan Raja Ampat)
Raja Ampat begitu terkenal belakangan, khususnya bagi para konservasionis, peneliti dan pastinya pemimpi yang tak lelah mencari hal terindah di muka bumi . Tempat menakjubkan yang terletak di perbatasan kepala burung Papua dengan kepulauan Halmahera, Maluku Utara ini memang menyimpan banyak kejutan bagi mereka yang “nekad” mengunjunginya.
Tak mudah untuk mencapai, apalagi mengelilingi seluruh areal kabupaten raja ampat, atau sekitar 46 ribu km/segi,berpenduduk sekitar 49 ribu jiwa dengan 85 % luasannya berupa laut serta 610-an pulau baik yang berpenghuni ataupun tidak. Namun, bagi sebagian orang, itu sama sekali tak cukup untuk menghentikan keinginan datang dan mengunjunginya. Mungkin itu termasuk aku.
Bagiku, raja ampat tak hanya sekedar destinasi, dia adalah sebuah alasan. Kabar mengenai surga di belahan utara Papua ini memang magnet yang kuat buatku. Inilah, selain “mimpi” untuk menjelajahi Cartensz Pyramids, yang akhirnya membuatku memutuskan meninggalkan Aceh, dan memanggul ransel, berjalan ke ujung timur negeri, memulai episode baru di bumi Papua. Namun, kita hanya akan bercerita tentang Raja Ampat, bukan hal lain, yang juga dilakukan, atau ditemui di Papua, khususnya Nabire, tempat aku kadang merasa trapped selama 4 bulan terakhir ini.
KM Dorolonda, Nabire, 23 Desember
Perjalanan mengagumkan ini dimulai 23 desember 06, saat yang tepat untuk mengambil libur natal sekaligus tahun baru. Ditemani 2 orang kawan, Ibe dan Retha, kami menunggu KM Dorolonda di Pelabuhan Nabire, untuk kemudian berlayar selama sehari semalam menuju kota Sorong. Perjuangan dimulai disini, pelabuhan penuh sesak dengan orang-orang yang akan “mudik” merayakan natal di Sorong, Manokwari, Ambon, Ternate bahkan Jakarta. Bayangkan saja seperti terminal Pulogadung sesaat sebelum lebaran. Setelah kapal merapat, hampir tengah malam, kami berjuang keras untuk dapat naik. Menaiki tangga kapal pun seperti bertaruh nyawa, salah sedikit bisa jatuh ke laut di Teluk Cendrawasih.
Dengan susah payah, terutama karena mesti menjaga Retha, dokter mungil yang manis dan periang, kami akhirnya masuk ke kapal. Sedikit negoisasi, kami berhasil menukar tiket ekonomi dengan dek khusus bagi perwira kapal, tentu dengan membayar 1,5 juta rupiah. Terpaksa dilakukan, karena seluruh bagian kapal sudah tak mensisakan sedikit pun ruang untuk sekedar membaringkan tubuh.
Manokwari, 24 Desember
Pagi hari sampai di Manokwari, kota kecil di pesisir utara Papua, setelah melalui perjalanan malam bergelombang, dan seakan membuat dunia di sekitar kami terus berputar. Kapal bersandar selama 2 jam, dan itu memberi kesempatan bagi kami untuk jalan-jalan, mengenal kota Manokwari. Naik ojek ke pusat kota, kami menikmati makan hari itu dengan coto makasar, serta es pisang. Tak lupa berfoto ria untuk membuat “monumen” bahwa kami pernah di situ, kamipun kembali ke kapal, meneruskan perjalanan 9 jam lagi untuk kemudian turun di Sorong.
Tepat tengah hari, kapal kembali berangkat, mengarungi lautan yang semakin bergelombang, memulai kembali episode hectic dan dizzy day. Beruntung perjalanan ini dilakukan bersama dengan teman-teman yang menyenangkan, dan tentu ada malaikat kecil dan cantik disana. Dan kembali, dek milik perwira kapal itu menjadi tempat terbaik untuk “membunuh waktu”, berharap segera sampai dan mengakhiri episode tersiksa oleh suasana suntuk dan diombang-ambing gelombang lautan.
Sorong, 25 Desember
Malam Natal itu kami berlabuh ke Sorong, dan menginap di Hotel Indah, tak jauh dari pelabuhan. Untung dapat masih ada kamar, karena malam natal itu cukup penuh orang datang. Mandi, kemudian tidur nyenyak adalah hal paling menyenangkan, setelah makan malam di warung tenda yang berada di tepi pantai, dan dikenal dengan daerah Tembok Berlin.
Chrismast Day, 25 December, all the day spent in Sorong. There is no boat to Raja Ampat islands on Christmast. Just stay at hotel, try to search all information about the islands, take a rest and going to the harbor at afternoon, ehm, and sure, take a picture. Yak, after the confused also complicated journey from Nabire, its great to get ‘nice” and “unforgotten” rest with my lovely friend, retha.
After say hallo to several friends for Chrismast, we walked around the city of Sorong. Not too busy, although not so quiet. And we met Husein, the boat owner. He agreed to join with us to raja ampat island. The price is 4,5 million for 5 days trip, netto and he have to prepared me all the food neededs. You know, he said that when Jejak Petualang Team from TV 7 explore that island, he joint that team for two week. Yah, dengan kesepakatan bahwa besok pagi subuh kami akan berangkat, maka malam itu kami berbelanja logistik untuk keperluan di kepulauan, yang kami bayangkan terpencil itu..
Sorong, 26 December
Kabar buruk itu datang. Hari itu Husein gagal mendapatkan bensin, karena banyak penjual masih liburan Natal, sedang boat regular ke kepulauan itu tidak beroperasi. Akhirnya kami, berkunjung ke kantor Conservation International, satu LSM koneservasi yang memiliki program di Taman Nasional Raja Ampat. Mendapatkan buku-buku, informasi dan tentu, foto, kami semakin tak sabar untuk menunggu hari, untuk kemudian memanggul ransel, mengarungi lautan menuju kepulauan Raja Ampat.
Untuk memanfaatkan waktu, kami mengunjungi Sorong Dom di sore harinya. Sebuah pulau kecil, tepat di depan Sorong, dulu pernah menjadi ibukota Sorong, 10 menit menyeberang dengan perahu temple kecil berkapasitas 10 orang. Kemudian, dengan berjalan kaki, kami mengelilingi pulau itu, menuju rumah Husein. Melewati pemukiman penduduk, pekuburan yang unik, lampion natal, orang mabuk, pantai dengan anak-anak Papua yang polos, sebelum akhirnya menenggak fanta dingin yang dihidangkan adik si Husein. Pulangnya, karena lelah, kami naik becak sampai ke pelabuhan. Becaknya cukup unik karena dilengkapi dengan musik. Pengayuhnya ternyata juga berasal dari Malang, Jawa Timur, tetangga si Retha. Dan malam itu kami istirahat, menyiapkan diri untuk berangkat ke Raja Ampat esok hari.
Raja Ampat, 27 Desember
Subuh itu Husein sudah menjemput kami di hotel. Dengan mata masih mengantuk, kami memanggul ransel dan logistik menuju boat bernama Rizki yang sudah siap berlayar di pelabuhan. 400 meter berjalan, sampailah kami dan siap berangkat ke Pulau Saonek, tempat kami akan menginap nanti malam. Perlahan boat kecil itu meninggalkan Sorong, melewati Sorong Dom dan Pulau Buaya, akhirnya kami mengarungi Selat Dampier yang memisahkan daratan Papua dengan Kepulauan Raja Ampat. Ditemani 3 kru kapal yang lucu, Husein dan Zubair yang berasal dari Pulau Seram (Maluku), serta Udin dari Makasar, aku dan Retha memulai episode menjelajahi Raja Ampat. Ibe tak bergabung karena harus menjaga toko milik orang tuanya di Sorong.
Udara masih dingin, dan Retha malah tertidur di bagian dalam boat. Aku memulai hari dengan menyapa laut, duduk di geladak berkelindan dengan angin, memandang kepulauan itu nun jauh di sana dan berkata dalam hati ; 2 jam lagi kami sampai.. Ikan-ikan terbang menyambut sepanjang perjalanan, menakjubkan, seakan mereka berkata padaku ; ‘aku dapat terbang jauh nih’. Awal yang bagus, sempat juga kami melihat serombongan Penyu yang melintas, namun menghilang saat kami dekati. Ada juga rombongan Camar yang aku kira sedang mengapung di air, namun ternyata mereka berdiri di atas potongan kayu yang berserak. Ugh, jadi ingat buku cerita filsafatku “ Jonathan Livingstone Camar”, buku sangat bagus yang lenyap diembat orang.
Saonek, Teluk Kabuy & Waiwo
Saonek is a small island, also one of sub district at ditrict Raja Ampat. That’s island would be our first destination. Arrived at Saonek, with a beautiful and clear small harbor, we put our bag first at the small home stay. The owner is Batakneesse. Sure, after got a breakfast on the small “warung” beside the harbor, take a picture, then we move to Kabuy Bay for fishing, swimming and sure, snorkeling. Unfortunately, first day in Raja Ampat we forgot to rent the snorkel equipment in Waiwo resort. So we just fishing, take pictures, swimming on the clear and blue water also hearing the bird sing.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi berbagai sudut Teluk Kabuy, termasuk mampir ke sebuah pulau kecil tak bernama. Di situ Udin mencari kelapa untuk di bawa pulang ke Sorong. Aku dan retha mandi, main pasir dan berfoto di gubuk kecil yang telah ditinggalkan oleh para pem-budi daya kerang mutiara. Sebelumnya sempat mandi di sebuah sudut tak kenal di teluk itu. Sangat indah, bahkan “kebun” karang di kedalaman 5 meter, dengan berbagai ikan berwarna-warni, nampak dengan sangat jelas. Kata Husein, di tempat itu, dulu para kru Jejak Petualang TV 7, Medina Kamil dan kawan-kawan mandi sambil “kesetanan” karena saking takjubnya. Dalam perjalanan itu sendiri, aku sempat mengambil alih kemudi boat dari Husein.., sungguh menakjubkan mengemudikan boat di laut lepas yang indah.
It’s truly an amazing place, with the ancient forest, beatifull coral, so clear water, birds song, so many colorful fish, quietly situation. It must be a paradise, retha said. It’s so perfect team, accompanied by very funny boat team, and sure nice angel. Thanks pie.
At the afternoon we moved to Waiwo Resort on the main island of Raja Ampat, Waigeo. This place organized by Conservation International, COREMAP and local government. There we met Mas Suratno, man from Madiun, the javanese who work as a staff at the resort, with his nice son, ugh i forgot the name. He lived at the resort just with his lovely son. The great relation between father and son. It’s amazing to meet javanese there, in the middle of no where and we talked in the same language. We burn the fish we got on fishing for lunch. Such delicious foods, and amazing place, so perfect.
I got snorkel equipment from Mas Suratno. After nice lunch together, under the trees, i started to snorkeling near the small harbor at Waiwo Resort. Alone, because retha got a cold, so she just played on the beach. There is small spring water there, so beautiful. Too many sea grass on the place i snorkel, and I didn’t see many beautiful fish. Because i felt so tired, i back to the resort, joint with the team, and Retha. I am sure that she must be felt lonely without me.. he he.
Almost dark, and the sea looks so crowded because of hard wind. Honestly i start to worried about the situation because we have to cross the little strait and back to Saonek. By the way, i took a crazy decision, drive the boat on the bad situation and often time our boat hit the big wave. Retha looks so tired, she wanna cry, till we arrived at Saonek after 45 minutes trip, and then going to the home stay.
After take bath with the “real” water, we got dinner at the same small “warung”, beside the harbor. That’s so nice to got a dinner with the singing of wave. Suddenly, i felt fever and dizzy, worried that it is Malaria. I got the medicine from beautiful doctor beside me, and then going to sleep, follow the nice dream about the paradise named Raja Ampat.
To be continued…….